Mobiltub – Persaingan mobil listrik sekarang bukan cuma soal desain futuristis, layar besar, atau fitur canggih di dalam kabin. China justru membangun keunggulannya dari hal yang sering luput dari perhatian konsumen: baterai, riset teknologi, dan strategi industri jangka panjang. Kombinasi inilah yang ikut mendorong Negeri Tirai Bambu menjadi salah satu kekuatan terbesar di pasar kendaraan listrik dunia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menilai keberhasilan tersebut tidak terjadi begitu saja. China menyiapkan arah pengembangan teknologi sejak awal, termasuk memastikan penelitian mendapat dukungan yang memadai.
Baterai Jadi Kunci Persaingan Mobil Listrik
Kalau membahas spesifikasi mobil listrik, kapasitas baterai dan jarak tempuh biasanya langsung menarik perhatian. Namun, dari sisi industri, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: berapa besar biaya untuk memproduksi baterai tersebut?
China melihat komponen ini sebagai salah satu titik strategis. Dengan mengembangkan teknologi baterai dan memperkuat kemampuan produksinya, produsen bisa menekan biaya sekaligus menawarkan kendaraan yang lebih kompetitif.
Pendekatan ini membuat teknologi baterai mobil listrik menjadi bagian penting dari persaingan otomotif. Bukan hanya soal siapa yang punya jarak tempuh paling jauh, melainkan juga siapa yang mampu menghadirkan teknologi tersebut dengan biaya masuk akal.
Bagi konsumen, efeknya bisa terasa pada harga kendaraan dan pilihan model di pasaran. Sementara bagi produsen, penguasaan teknologi baterai membantu mereka menghadapi persaingan yang semakin ketat.
China Tidak Langsung Menang dalam Semalam
Perjalanan China menuju posisi kuat di industri EV berlangsung bertahap. Pada awal 2000-an, kendaraan listrik belum berkembang seperti sekarang. Pemerintah kemudian mendorong penelitian dan memberikan insentif untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut.
Strateginya juga berbeda dari sejumlah negara lain. Jepang lebih dahulu dikenal lewat pengembangan mobil hybrid, sementara Amerika Serikat memiliki sejarah panjang dalam industri otomotif. China memilih memperkuat jalur kendaraan listrik, termasuk melalui pengembangan baterai dan kendaraan berukuran kecil.
Langkah tersebut memperlihatkan pentingnya riset kendaraan listrik yang berjalan searah dengan kebutuhan industri. Teknologi tidak berhenti sebagai proyek laboratorium, tetapi didorong agar bisa digunakan dalam produk yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Stella Christie membahas pendekatan tersebut dalam Periklindo Electric Vehicle Conference 2026 di Jakarta pada 28 Oktober 2026.
BYD dan Tesla, Persaingan Bukan Cuma soal Merek
Nama BYD semakin identik dengan ekspansi mobil listrik asal China, sedangkan Tesla tetap menjadi pemain penting dari Amerika Serikat. Persaingan keduanya memperlihatkan bahwa reputasi merek saja tidak cukup untuk mempertahankan posisi di pasar.
Harga, efisiensi baterai, kapasitas produksi, teknologi, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen ikut menentukan. Produsen yang bisa menggabungkan faktor-faktor tersebut memiliki peluang lebih besar untuk menarik pembeli.
Itulah mengapa persaingan BYD dan Tesla menarik diamati. Pertarungannya bukan semata-mata siapa yang punya fitur paling keren, tetapi siapa yang mampu menawarkan paket teknologi dan harga yang paling masuk akal bagi target pasarnya.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Indonesia punya peluang untuk mengembangkan industri kendaraan listriknya sendiri. Namun, mendatangkan produk atau membangun fasilitas produksi saja belum cukup jika tidak diikuti penguatan riset, tenaga ahli, dan kemampuan teknologi lokal.
Stella Christie menekankan bahwa Indonesia tidak harus menyalin seluruh strategi negara lain. Ia menyatakan, “Jadi kita bukan harus menjiplak seperti itu, tetapi kita harus mempunyai strategi (sendiri).”
Pesan tersebut cukup relevan. Indonesia perlu menentukan bagian mana dari rantai industri EV yang paling realistis untuk diperkuat, mulai dari penelitian baterai hingga pengembangan komponen dan sumber daya manusia.
Pada akhirnya, pelajaran dari China bukan sekadar soal membuat mobil listrik dalam jumlah besar. Keunggulan industri lahir ketika teknologi, kebijakan, dan kebutuhan pasar bergerak ke arah yang sama. Dan dalam persaingan EV, baterai bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan siapa melaju lebih jauh.